Minggu, 31 Mei 2026

Seporsi Kemenangan

Tidak ada porsi kekalahan hari ini. Yang tersajikan kali ini adalah seporsi kemenangan. Bentuk kemenangan yang sering kali dan sampai saat ini menjadi agenda rutin ketika pulang ke Ngawi dengan bus.

​Soto Terminal Gendingan menjadi checkpoint yang penting dalam perjalanan pulang kampung saya. Tidak hanya menandai bahwa sebentar lagi akan disambut udara dingin, sawah hijau, Gunung Lawu yang ngawe-awe, dan suasana yang hening. Namun, ini menjadi mukadimah bahwa kemenangan dalam perjalanan sebentar lagi ada di genggaman. Soto Terminal Gendingan tak ubahnya seperti welcome drink versi saya, sebuah gladi bersih bagi perut sebelum dihajar kelezatan masakan ibu selama beberapa hari ke depan.

​Sebagai patokan, jika Anda datang dari arah timur (jalur Surabaya-Solo), setelah turun dari bus Anda bisa langsung berjalan kaki masuk melalui akses pintu keluar Terminal Gendingan. Di sebelah kiri atau di sisi utara, Anda akan menemukan deretan ruko. Warung soto ini menempati ruko kedua dari arah barat. Ciri-cirinya sangat mudah dikenali, yakni bangunan berwarna hijau dengan spanduk yang membentang di bagian depannya.

​Entah apa yang membuat soto ini selalu menjadi pilihan ketika saya transit di pemberhentian Terminal Gendingan. Saya rasa soto ini memiliki sisi magis tersendiri bagi saya. Entah kenapa, setelah turun dari bus, lidah dan perut sepertinya selalu mufakat untuk mengajukan proposal ke otak dengan menyerukan, "Wayahe, wayahe, lur!"

​Saya tidak berniat untuk hiperbola atau meromantisasi kegiatan remeh-temeh ini. Hanya saja, saya ingin menyampaikan kepada kawan, kamerad, bung, dan nyonya sekalian, jika sedang lewat jalan raya Ngawi-Solo dan perut serta lidah Anda sedang perlu asupan fondasi yang kokoh, maka Soto Terminal Gendingan adalah opsi yang sangat patut dipertimbangkan.

​Namun, sebuah fondasi yang kokoh tentu membutuhkan material pelengkap agar konstruksi kenyangnya makin sempurna. Di sinilah peran krusial para prajurit pinggir mangkuk bermain. Seiring waktu, memang ada lauk yang pada akhirnya terpaksa didegradasi dari etalase. Namun, untuk urusan barisan depan, saya selalu mengandalkan keripik tempenya. Tipis, renyah, gurih, dan nempe banget!

​Anda juga bisa mencoba tahu bacemnya. Di antara jajaran tahu bacem yang pernah lidah saya jajaki, tahu bacem Soto Terminal Gendingan ini belum bisa tergeser posisinya dari runner-up klasemen (juara pertama tentu saja masih dipegang mutlak oleh tahu bacem buatan ibu saya). Satu lagi item yang menjadi pelengkap adalah bakwan, karena saya memang lebih suka makan soto jika diiringi minimal satu item ini.

​Ketiga amunisi tadi bukan sekadar pelengkap acak, melainkan sebuah formasi yang terukur presisi. Ada harmoni yang tercipta ketika renyahnya keripik tempe berkolaborasi dengan lembut dan manisnya tahu bacem, lalu disempurnakan oleh gurih dan padatnya bakwan. Mereka menyeimbangkan kuah soto yang segar, menciptakan ledakan tekstur di setiap suapan.

​Di luar ketiga amunisi tadi, Anda sebenarnya punya opsi untuk mendatangkan pasukan tambahan berupa sebutir telur. Namun, kehadirannya sangat opsional dan murni hak prerogatif Anda. Memilih untuk absen mengundang telur ke dalam mangkuk tidak lantas membuat Anda dijerat pasal berlapis, apalagi divonis hukuman mati. Ya, persis seperti nasib para oknum pejabat korup di suatu negara yang konon kaya raya itu, ancaman maksimal hanyalah fiksi di atas kertas. Tanpa telur pun, soto ini sudah memenangkan perkara rasa.

​Jangan lupakan ritual penyempurna, menuangkan kecap dan sambal. Percampuran keduanya secara instan mengubah kuah soto yang tadinya cerah menjadi pekat dan penuh gejolak pedas. Sensasi kelam dan pedas inilah yang membuat ritual makan soto semakin paripurna.

​Soal rasa memang subjektif, namun soal kenyang, soto ditambah formasi tiga amunisi itu benar-benar memuaskan sekaligus sangat worth it. Bagaimana tidak, seporsi kemenangan tersebut saat ini hanya memangkas ongkos 15 ribu rupiah saja. Tentu saja, itu tarif hari ini. Saya tidak berani menjamin bulan depan harganya akan tetap sama. Sudah hampir pasti harganya bakal ikut merangkak naik, sejalan dengan rupiah yang terus letih, lesu, dan lunglai terhadap dolar. Eh, tapi kan orang desa tidak pakai dolar, ya? Seperti kata salah seorang yang diamanati jabatan di republik ini yang menenangkan rakyat agar tak perlu pusing memikirkan kurs mata uang asing. Beliau mungkin lupa bahwa keripik tempe dan tahu bacem yang jadi amunisi soto kita ini bahan bakunya masih saja kedelai impor. Jadi, meski tangan orang desa tak pernah menyentuh dolar, perut mereka nyatanya tetap tunduk pada nilainya.

​But, anyway,

​Kemenangan tetap diperoleh, Kamerad! Kemenangan atas rasa, kemenangan atas kenyang, dan kemenangan atas biaya, semuanya terangkum lengkap dalam seporsi kemenangan Soto Terminal Gendingan.

​Menyadari betapa sempurnanya taktik dan ramahnya harga, eksekusi di meja makan pun berjalan tanpa keraguan. Formasi pelengkap perlahan luluh lantak, menyisakan lautan kuah soto yang kian surut seiring berjalannya waktu transit saya.

​Satu sendokan terakhir kuah soto yang tandas, disusul embusan napas lega, ibarat peluit panjang tanda pertandingan usai. Keringat tipis yang mengucur di dahi menjadi bukti sahih betapa paripurnanya perayaan kecil ini. Kini, dengan fondasi yang telah berdiri tegak dan hati yang menghangat, sisa perjalanan menuju senyum ibu tak lagi terasa sebagai rutinitas yang melelahkan, melainkan sebuah rute kemenangan yang sesungguhnya.

​Sudah, sekian saja, saya tak pesan ojek dulu.

​Sampai jumpa pada seporsi kemenangan berikutnya.

Kamis, 14 Mei 2026

Memoar Vespa


Waktu SMP, mayoritas teman-teman saya mendambakan motor Satria FU, Vixion, atau Ninja 2-tak. Namun, agaknya saya memilih "jalan ninja" yang berbeda: Vespa klasik.

Pertama kali saya memilih jalan itu adalah ketika melihatnya dari dekat saat nongkrong selepas pulang sekolah. Salah satu kawan dekat membawa Vespa Sprint warna biru ke tempat tongkrongan. Saya cuma bisa memandangi karena tidak diizinkan mencoba. maklum, teman saya tahu kalau saya belum mahir motor kopling tangan. Saya lupa tahun produksinya, tapi tampilannya masih orisinal dan mesinnya halus meskipun ada beberapa bagian yang sudah keropos. Di mata saya, motor itu sangat reggae sekali, keren, dan unik. Suara mesin 2-taknya pun menjadi pelengkap yang sempurna. Di situlah saya mulai terpikat.

Masuk masa SMK, obsesi ini makin tidak tahu diri. Selama beberapa bulan, hobi saya adalah menjelajah Facebook Marketplace dan OLX hanya untuk melihat-lihat Vespa dijual.

Puncak obsesi, saya pernah melakukan hal yang sangat nekat di sebuah postingan Facebook yang menawarkan Vespa Sprint Bagol seharga 7 juta. Saat itu, total tabungan saya cuma 750 ribu. Dengan kepercayaan diri yang entah dari mana, saya mengirim pesan ke penjualnya: "Mas, Vespanya boleh tak cicil 750 dulu?"

Tidak perlu BMKG untuk memprediksi jawabannya. Jelas saja si penjual menolak mentah-mentah. Masih untung dia tidak membalas dengan kalimat nyelekit, "750 ewu tukokno musang ae Mas, cek enek kesibukan selain komen ngawur!" (750 ribu belikan musang saja Mas, biar ada kesibukan selain komentar asal!).

Zaman kuliah, godaan datang lagi lewat Vespa Excel milik seorang kawan. Saya sering diam-diam memandanginya di parkiran kampus, bahkan sempat mencoba motor itu beberapa meter. Rasanya? Nagih dan satisfying. Tapi lagi-lagi, niat baik saya dijegal finansial. Tabungan saya cuma 2 juta, sementara harga Vespa yang dulu 7 juta sudah melonjak jadi 15-20 juta. Niat beli pun kembali saya telan bulat-bulat, saya putar balik dan parkir di posisi awal.

Di awal masa kerja, keinginan itu sempat meredup, sampai suatu hari saya berpapasan dengan rombongan touring Vespa. Melihat mereka menepi di Indomaret dekat kos, saya pun putar balik. Pakai modus beli kopi kaleng, saya ikut nongkrong di samping rombongan sambil mengagumi deretan Vespa mereka.

Iseng-iseng, saya basa-basi ke salah seorang bapak-bapak dalam rombongan itu. Dari obrolan itu, si Bapak memberi petuah yang menampar: "Vespa itu cuma buat orang yang berani saja. Berani keluar duit buat beli motornya, berani beli spare part-nya, dan berani beli waktunya."

Kata-kata itu membuat niat saya menciut. Lagi-lagi kena jegal masalah "berani keluar duit". 

Pada akhirnya, saya malah memilih motor lain. keputusan yang sekarang sedikit saya sesali karena ternyata biaya perawatannya sama saja menguras kantong.

Tapi sepertinya semesta memang hobi menguji keberanian saya. Baru-baru ini, teman kos saya membawa Vespa Excel milik kawannya. Sudah sebulan motor itu terparkir manis di parkiran kos dalam kondisi cakep: modif CDI, double starter, aki kering, lampu LED, cat mengkilap dan tidak telat pajak. 

Setiap balik kerja dan mau parkir motor, saya selalu curi-curi pandang. Pas saya iseng tanya harganya, realitas kembali menampar. Angkanya tetap menjadi musuh utama yang memaksa saya berhenti di level memandangi dan mengagumi saja.

Saya tarik niatan untuk memiliki vespa "lagi".

Saya tidak tahu siklus ini akan terulang sampai kapan. Bahkan saat tulisan ini dibuat pun, saya dalam posisi duduk di depan Vespa teman kos saya yang terparkir manis, memandanginya sedari pagi tadi.

Momen ini membuat saya teringat kata Sudjiwo Tedjo: "mungkin benar kata orang, ada kebahagiaan dalam sekadar memandangi. Seperti menikmati senja, tanpa harus memaksa membawa pulang mataharinya."


Surabaya, 14 Mei 2026

Selasa, 24 Februari 2026

Selamat malam

Rentang waktu setelah pulang kantor hingga pukul sepuluh malam adalah masa yang sangat rawan, rawan akan kecelakaan memori. Sebuah kecelakaan akibat runtuhnya ingatan-ingatan getir yang seharusnya terkunci rapat. Situasi ini kian pelik saat media sosial turut memperdaya; algoritma yang seolah kian mafhum akan isi kepala dan apa pun yang kita rasa, memaksa kita untuk tetap tenggelam dalam pusaran memori pahit itu. Dan celakanya, siklus bodoh ini berulang puluhan hingga ratusan kali.

​Istirahat selepas bekerja kerap menjadi alasan klise untuk membiarkan rutinitas itu terus berputar. Ia menjadi kambing hitam atas gelapnya kegetiran masa lalu; ia menjelma biang kerok yang nyata.

​Begitulah sekelumit omong kosong yang melintas di benak saat layar gawai menunjukkan pukul 22.33. Seorang pemuda beranjak dari kasurnya, mengumpulkan sisa-sisa kesadaran setelah pergulatan batin tersebut. Ia membuka pintu kamar kos, melangkah ke teras, lalu menyulut sebatang rokok. Tak sampai lima belas menit, rokok itu tandas. Ia kembali masuk, menutup pintu, lantas membersihkan diri, bersiap menenggelamkan diri dalam kantuk yang sebenarnya sudah ia rasakan sejak masih di kantor tadi.

​Namun, sebelum terlelap, ia membatin, "Besok, aku akan menjalani hari yang berbeda dari hari ini."

​Selamat malam.